DakwahHeadlinePerspektif

BENARKAH AKHLAK DAN BUDAYA PRODUK AKAL PIKIR MANUSIA ITU LEBIH BERMARTABAT DARI AGAMA?

Akhlak yang mulia dan budaya yang bagus menjadi bermartabat, sehingga dihargai orang atau bangsa lain, justru karena dilandasi keyakinan agama yang di anutnya

 

By : H.Naryo.

Dengan tidak mengurangi rasa tazim terhadap seorang yang sudah di akui ke tokohannya dan di akui juga ke ulamaannya oleh sebagian anak bangsa ini , dan dengan menyimak apa yang diucapkan dalam video, rasa dan tangan Alfaqir ini menjadi gatel, ingin sedikit berkomentar dan mengetik untuk menanggapinya , meski Al-Faqir masih jauh dari kekurangan ke ilmuan dan pengalanan yang Alfaqir miliki..

Betul kah bangsa yang bermartabat akan di hargai orang karena akhlaknya yang mulia dan budayanya yang bagus. Bukan karena Agamanya?.

Akhlak yang mulia dan budaya yang bagus menjadi bermartabat, sehingga dihargai orang atau bangsa lain, justru karena dilandasi keyakinan agama yang di anutnya. Dinul Islam itu lah bagi kaum Muslimin yang menjadi pondasi menuju jalan kehidupan keselamatan baik di dunia maupun kelak di akhirat.

Budaya adalah prodak akal pikir manusia, baik warisan yang bersifat kebendaan atau bendawi (tangible) maupun juga yang bersifat nilai non kebendaan atau bukan bendawi (intangible), seperti yang termasuk didalam wilayah spiritual, kepercayaan yang berisi nilai non bendawi. (Dalam penjelasan UU tentang CAGAR BUDAYA No 11 tahun 2010).

Agama dan Budaya: Kritik Genealogi dan Efektivitas Dakwah di Era Post-Modernisme

Semoga bukan karena ketidakmampuan dalam menginternalisasikan dan mengaplikasi kan nilai-nilai agamis, lebih-lebih terhadap Dinul Islam atau Millah Ibrahim, maka penilaian terhadap agama dipukul rata, semua agama negatif, termasuk Dinul Islam yang karena lahir di Arab, bangsa Arab perang melulu, pake celana cingkrang, degradasi moral, tidak bermartabat, teroris dan sebagainya, negatif semua dan dianggap tidak mampu memberikan pencerahan peradaban kepada umat manusia, termasuk umat di negeri Nusantara ini.

Maka untuk di Indonesia dengan gagasan tokoh itu, berdirilah Islam Nusantara yang berdasarkan budaya, untuk menyelamatkan peradaban umat manusia.. weleh..weleh..!

Bukankah agama, terlebih Islam yang kita yakini adalah Wahyu dari Alloh Zat Maha pencipta alam semesta ini yang di bawa oleh Rosululloh, bukan budaya yang merupakan produk dari akal pikir manusia yang terbatas, meskipun akal pikir Nabi Muhamad itu sendiri dalam kapasitasnya sebagai manusia juga.

Karena Dinul Islam itu merupakan suatu sistem, way of live dan pandangan hidup yang kita yakini, para tokoh Muslim baik dalam maupun luar negeri, sejatinya mampu memberikan solusi untuk melakukan perbaikan peradaban manusia diberbagai bidang kehidupan Akhlak, budaya, ekonomi, sosial, teknologi, politik, keamanan , dan sebagainya, semuanya itu merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling berhubungan satu dengan lainnya dalam doktrin aqidah tauhid yang Islami, bukan malahan memarjinalkan Islam.

Bukan doktrin agama Islamnya yang tidak benar, jika kondisi umat kini cukup memprihatinkan, hal itu bisa jadi lantaran para tokohnya termasuk para kiyainya juga yang tidak mampu menginternalisasikan dan mengaplikasikan nilai-nilai Islami hingga tergelincir atau distorsi dari subtensi sumbernya dan bisa jadi juga para tokohnya yang perlu mengintrospeksi keteladannya kembali, jangan sampai AL ‘ULAMA WARASATUL ANBIYA menjadi rusak dan jangan sampai terjadi juga seperti pribahasa mengatakan GURU KENCING BERDIRI MURID KENCING BERLARI ….gak lucu kan?

Hal itu tentunya menjadi perjuangan manusia ( umat Islam ) terutama para tokoh pengawal moral nya yang telah menerima kesiapan mengemban amanah dari Alloh Pencipta alam ini sebagai KHALIFAH FIL ARDHI.

Apa yang di sampaikan oleh Tokoh tersohor dalam videonya, hampir sama halnya seperti ada upaya pihak lain dalam rancangan undang-undang HIP yang menghendaki adanya perubahan susunan Pancasila… ” KETUHANAN YG BERKEBUDAYAAN “, bukan Ketuhanan yang di landasi kebudayaan, tetapi yang benar menurut Islam semestinya adalah KEBUDAYAAN LAH yang berlandaskan KETUHANAN.

Semua karya budaya manusia yang disebut manusia sebagai mahluk budaya, jika produk budayanya tidak sesuai atau tidak di landasi atas azaz Aqidah Tauhid, maka atas doktrin Islam jugalah bagi umat Islam tentu wajib menolak nya.

Demikian tanggapan Al-Faqir ahiri sampai disini. …. khawatir nanti menjadi kuwalat sama kiyai yang ada dlm video itu lagi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sabili
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker