Headlinepemikiran

In Memorium  H. Nadirin Maskha “MENGINGINKAN UMAT  ISLAM YANG MANDIRI”

 

@ A. Zaini Bisri

H. Nadirin Maskha

Rasanya belum lama kami bertemu beliau di rumahnya, ketika Rabu malam, 23 Desember 2020, di layar WhatApp saya muncul berita duka itu: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… telah meninggal dunia Bapak H. Nadirin Maskha.”

Terbayang sekian kali pertemuan dengan beliau. Teringat kembali seluruh perbincangan dan diskusi yang hangat tentang PII, KB PII, Muhammadiyah, NU, dan persoalan umat Islam. Dalam hampir seluruh pembicaraan itu, seperti biasa, beliau selalu berbicara dengan penuh semangat, enerjik, optimis, disertai senyuman, dan bahkan sering kami tertawa bersama jika beliau melucu atau membicarakan hal yang lucu.

Usianya sudah kepala tujuh, tapi gerakannya masih gesit dan kesannya masih awet muda. Itu karena sejak muda beliau gemar berolahraga. “Sampai sekarang saya tiap hari jalan kaki atau nyepeda,” katanya.

Namun, Allah rupanya sudah mencukupkan rezeki baginya dan memanggilnya pulang. Keganasan virus corona membawanya ke ruang ICU RSU Kardinah Tegal. Saya dengar keluarganya mencari donor plasma darah dari mantan penderita Covid-19. Termasuk donor dari salah seorang keponakan kami. Coronanya sembuh tapi takdir tak bisa diubah. Gangguan jantung membawanya menghadap ke Ilahi Rabbi. Semoga husnul khotimah.

Keturunan NU dan Muhammadiyah

Saya buka kembali buku catatan. Ternyata saya bertemu terakhir kali dengan beliau di rumahnya di Jalan K.H. Zaenal Arifin Nomor 40 Tegal pada tanggal 13 Oktober 2020. Saya ditemani keponakan, Ahmad Sahal. Malam itu kami berbincang cukup lama, dua jam lebih, dari sejak habis isya sampai sekitar pukul 22.00. Sampai-sampai Sahal meminta kami pamit pulang karena dia sudah mengantuk.

Posisi Pak Nadirin terakhir adalah ketua PD Muhammadiyah Kota Tegal, ketua Forum Umat Islam Tegal, dan ketua Persaudaraan Haji Indonesia (PHI) Kota Tegal. Juga anggota Dewan Pembina Yayasan Syi’arul Islam Tegal. Di bidang bisnis, selain mengelola usaha keluarga, beliau juga komisaris Kospin Jasa Syariah Tegal.

Kalau jenazah beliau dimakamkan di Jatibarang, Brebes, itu wajar. Di sanalah kampung halaman di mana beliau dilahirkan pada 73 tahun yang silam. Ayahnya bernama K.H. Masduqi Khanafi, ketua Muhammadiyah Jatibarang pada tahun 1990-an, sehingga beliau menambahkan di belakang namanya dengan “Maskha”, akronim dari nama ayahnya. Kakeknya, K.H. Abdul Rasul, adalah ketua Syuriah NU Brebes tahun 1960-an. Jadi beliau adalah keturunan dari dua ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah.

“Jadi saya dari dulu Muhammadiyah, tapi mbah saya itu ketua Syuriah NU Brebes,” kata beliau menjawab pertanyaan saya apakah dulu pernah di NU tapi sekarang di Muhammadiyah.

Kepada beliau, saya mintai tanggapan juga soal embrio komunitas “Muhammadinu” yang sedang tumbuh di Tegal. “Muhammadinu” di Tegal adalah komunitas beberapa tokoh muda Muhammadiyah dan NU yang menyatukan diri dalam kegiatan keagamaan tanpa berafiliasi dengan Muhammadiyah dan NU.

Semangat Muhammadinu sudah ada sejak dulu yang bertujuan mendekatkan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU, memperkecil perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyah, dan mengangkat kesamaan pandangan untuk memajukan umat Islam. Hal ini, misalnya, sudah pernah dibahas dalam buku “Muhammadiyah-NU: Mendayung Ukhuwah di Tengah Perbedaan” (2004) dengan kata pengantar dari dua tokoh Muhammadiyah dan NU, yakni Ahmad Syafi’i Ma’arif dan Salahuddin Wahid.

Sayangnya, untuk komunitas Muhammadinu di Tegal, menurut Pak Nadirin, tidak sesuai yang diharapkan. Tokoh-tokoh pendirinya, menurut beliau, adalah orang-orang yang “tidak lagi terpakai di Muhammadiyah dan NU”. Dengan kata lain, ada kesan mereka adalah orang-orang yang kecewa, bukan secara sadar ingin mendekatkan Muhammadiyah dengan NU. “Itu orang-orang yang putus asa,” kata Pak Nadirin.

Renovasi Sekretariat PW PII Jawa Tengah

Seperti banyak kader Muhammadiyah yang lain, Pak Nadirin mulai menempa pengalaman organisasinya di Pelajar Islam Indonesia (PII). Beliau pernah menjadi sekretaris PD PII Tegal periode 1972-1974. Setelah itu, menjadi ketua Muhammadiyah Jatibarang.

Sebelum menjadi komisaris Kospin Jasa Syariah Tegal, beliau adalah bendahara Kospin Jasa Pusat di Pekalongan. Ketika itu ketua Kospin masih dipegang langsung oleh Pak Zacky Arslan Junaid. Saat itu hubungan saya dengan para petinggi Kospin Jasa Pekalongan cukup dekat, terutama dengan Pak Zacky, Pak Nadirin, dan Pak Teguh Suhardi, ketiganya para tokoh alumni PII, karena ketika itu saya masih menjadi ketua Perhimpunan KB PII Jawa Tengah.

Saya menjadi ketua umum Perhimpunan KB PII Jawa Tengah selama dua periode, yakni periode 2007-2012 dan 2012-2016. Namun empat bulan sejak terpilih lagi dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) di Pekalongan (5-6 Mei 2012), yakni pada 4 September 2012, saya mengundurkan diri sebagai ketua umum. Sebelumnya, saya ikut merintis pembentukan KB PII Jateng pada era reformasi 1998 dan menjadi sekretaris umum tiga periode, yaitu periode Pak Muhady Uddin (1998-2001, belum selesai, meninggal dunia), periode Pak Widodo HS (2001-2002, belum selesai, meninggal dunia) dan periode Pak Achmadi (2002-2007).

Pada 1 Muharram 1433 H bertepatan dengan 27 November 2011, diadakan peresmian renovasi kantor Sekretariat PW PII Jateng di Jalan Dorang 83 Semarang. Renovasi kantor sekretariat ini menghabiskan dana Rp 77 juta lebih, dan Rp 45 juta di antaranya dari bantuan Pak Zacky lewat Pak Nadirin. Pak Zacky juga menyumbang sebuah televisi warna 32 inch. Sebenarnya ditawari mau televisi ukuran berapa, tapi saya jawab cukup yang 32 inch saja, menyesuaikan dengan luas ruangan.

Setelah peresmian itu, Pak Zacky menyatakan siap membantu untuk membangunkan separo dari fasilitas bangunan kompleks sekretariat PW PII Jateng yang baru, jika sudah ada tanahnya (sekretariat di Jalan Dorang 83 itu statusnya sewa bangunan). Sayangnya, tiga bulan kemudian, tepatnya pada 3 Maret 2012, Pak Zacky wafat secara mendadak.

“Masa-masa bulan madu” antara PII dan KB PII Jateng dengan Pak Zacky pun berakhir. Impian bagi adik-adik PII Jateng untuk memiliki sebuah kompleks sekretariat yang luas, lengkap dengan masjid, kantor, ruangan untuk training, dll sirna. “Belum rezekinya,” begitu kata kawan-kawan alumni PII Jateng.

Terus apa peran Pak Nadirin ketika itu? Beliau adalah kepanjangan tangan Pak Zacky. Sebagai bendahara Kospin, beliaulah yang meneruskan persetujuan Pak Zacky atas permohonan bantuan dari PII atau KB PII Jateng. Dan, hampir semua permintaan KB PII Jateng dipenuhi oleh Pak Zacky, tentu saja permintaan yang wajar. Dalam periode kepengurusan saya, Pak Zacky adalah anggota Dewan Pertimbangan.

Jangankan untuk PII. Pak Zacky sudah membangun banyak masjid, antara lain Masjid Az-Zacky di Ponpes Modern Tazakka di Batang dan merenovasi Masjid Cheng Ho di Purbalingga. Masing-masing masjid dibantu miliaran rupiah. Pak Nadirin yang paling tahu berapa masjid yang sudah dibangun dan berapa dananya. Pak Zacky memang betul-betul seorang dermawan. Konon, jatah laba beliau dari Kospin dipakai untuk infak di mana-mana.

Kalau saya ada keperluan untuk KB PII Jateng, biasanya saya menghubungi atau ketemu langsung dengan Pak Zacky. Setelah itu, beliau akan memerintahkan Pak Nadirin untuk menguangkannya.

Merindukan Kemandirian Umat

Dari berbagai pertemuan dan diskusi saya dengan Pak Nadirin, kesan utama saya adalah beliau punya obsesi bagaimana caranya umat Islam di Indonesia ini bisa kuat secara ekonomi dan mampu mandiri. Kekuatan ekonomi umat sangat berpengaruh pada citra, martabat, dan kemajuan umat.

Untuk itu, di mana-mana beliau selalu berusaha menyebarkan “virus” kemandirian dengan memotivasi umat untuk menguasai ekonomi dan perdagangan, yang selama ini dikuasai Tionghoa (jadi ingat latar belakang berdirinya Serikat Dagang Islam di Solo oleh H. Samanhudi pada 1905, yaitu memenangkan persaingan bisnis dengan Cina). Kunci dari penguasaan ekonomi, katanya, adalah kepercayaan, manajemen, dan kerja keras.

Beliau selalu mencontohkan dirinya yang dipercaya oleh berbagai kalangan bisnis, termasuk Tionghoa, sehingga banyak Tionghoa yang menyimpan uangnya di Kospin Jasa Tegal. Dicontohkan juga manajemen bisnis gerabah miliknya. Ribuan item barang harus tercatat dengan rapi, termasuk harganya, dan terkoneksi dalam jaringan komputer. Dari situ beliau bisa mengontrol bisnisnya dari jarak jauh.

“Kadang pegawai saya heran, kok saya bisa tahu ada barang yang kurang atau ada pegawai yang kerjanya kurang bagus, ya karena semuanya terkoneksi ke hape saya,” tuturnya.

Semua itu harus dilakukan dengan kerja keras, disertai inovasi tiada henti. Beliau mengaku terkesan dengan inovasi yang dilakukan PDM Lumajang. Dalam kunjungannya ke Lumajang, beliau kagum dengan cara PDM menghimpun dana masyarakat.

Untuk menjaga mutu pendidikan Muhammadiyah di Tegal, beliau mencontohkan SMK Muhammadiyah Tegal. Agar mampu bersaing dengan SMK-SMK yang lain, terutama SMK Negeri, SMK Muhammadiyah Tegal dipasok dana miliaran rupiah. Dengan sarana dan peralatan yang lengkap, SMK Muhammadiyah Tegal menjadi daya tarik murid.

Bisnis juga butuh kreativitas dan kecerdasan. Pak Nadirin mencontohkan pembelian gedung bekas bioskop Dewa di alun-alun Tegal. Gedung mangkrak milik Tionghoa itu dibelinya Rp 3 miliar. “Eh, hanya setahun gedung itu sudah mau ditawar orang Rp 5 miliar, tapi tidak saya lepas,” ujarnya.

Begitulah beliau. Kalau sudah bicara bisnis sulit untuk menghentikannya. Untuk meyakinkan orang bahwa umat Islam perlu menguasai bisnis dan ekonomi, beliau kemukakan dalil-dalil agama. Namun toh ada saja orang yang menanggapinya skeptis dan sinis.

“Saya dibilang kapitalis,” katanya sambi tertawa. “Lha bagaimana kita mau naik haji kalau tidak punya uang, mau membangun sekolah tidak ada dana, bagaimana umat Islam bisa mengungguli umat yang lain hanya dari meminta-minta? Katanya tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.”

Beliau juga menyinggung potensi Kota Tegal. Katanya, Tegal seharusnya bisa ditingkatkan lebih maju lagi dan masyarakat Tegal bisa lebih sejahtera. Tegal adalah daerah yang strategis, terletak di persimpangan jalur pantura Jakarta-Surabaya dan jalur pedalaman Tegal-Purwokerto. Banyak jenis perdagangan dan jasa yang bisa berkembang di kota ini jika ada kemauan untuk mewujudkannya.

Demikianlah. Dengan kepergian beliau, masyarakat Tegal khususnya telah kehilangan seorang tokoh umat, pejuang, dan teladan khususnya dalam bidang ekonomi, yang mempunyai hubungan luas dengan berbagai kalangan masyarakat.

Selamat jalan, Pak Nadirin!

Semarang, 25 Desember 2020.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sabili
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker