HeadlinepemikiranPendidikan

Istilah “Sekolah Sekuler” Tidak Tepat

Sekuler sebagai suatu faham atau ideologi (sekularisme) jelas bertentangan dengan Islam. Islam tidak mengenal pemisahan antara dimensi dunia dengan dimensi metafisik (akhirat), ruh dan jasad, agama dan politik, dan sebagainya.

Wildan Hasan
Istilah “sekolah sekuler” untuk mendefinisikan sekolah bukan khusus sekolah keagamaan tidak tepat. Sekolah bukan sekolah khusus keagamaan lazim disebut sekolah umum saja dan istilah ini relatif lebih diterima dan lebih familiar. Meskipun istilah “sekuler” tidak dimaksudkan secara ideologis, tetapi istilah ini tidak dapat dilepaskan dari nilai dan sejarahnya yang anti agama. Sehingga apabila istilah untuk sekolah non keagamaan disebut dengan sekolah sekuler dapat diartikan bahwa sekolah itu adalah sekolah anti agama.

Sekuler berasal dari bahasa latin saeculum, yang memiliki dua arti yaitu waktu dan ruang atau tempat. Sekuler dalam pengertian waktu merujuk kepada ‘sekarang’ atau ‘kini’, sedangkan dalam pengertian ruang merujuk kepada ‘dunia’ atau ‘duniawi’. Oleh sebab itu, saeculum bermakna ‘zaman kini’ atau ‘masa kini’. Tekanan makna pada istilah sekuler terletak pada suatu waktu atau masa tertentu di dunia yang dipandang sebagai suatu proses kesejarahan. Konsep sekuler merujuk pada keadaan dunia pada waktu, tempo atau zaman ini. Pengertian ruang-waktu yang terkandung dalam konsep sekular ini dari sudut sejarah diperoleh dari pengalaman yang lahir dari tradisi Yunani-Romawi dan tradisi-tradisi Yahudi di dalam Kristen-Barat.

Dalam bahasa Arab, menurut Yusuf Al Qaradhawy, sekuler adalah La Diniyah atau duniawiyah, yang maknya tidak hanya lawan ukhrawi saja tetapi memiliki makna lebih spesifik yaitu: sesuatu yang tidak ada kaitan dengan dien/agama, atau sesuatu yang hubungannya. Dengan agama adalah hubungan lawan. Yusuf Al Qaradhawy menjelaskan, sekularisme tidak ada yang bersikap netral terhadap agama karena memisahkan agama dari arena kehidupan manusia, bukanlah suatu kenetralan justru sikap memusuhi agama.

Sementara itu sekularisasi menurut Al Attas, mengutip ahli teologi Belanda Cornelis van Peursen, didefinisikan sebagai pembebasan manusia dari tuntunan agama dan tuntunan metafisik yang mengatur akal dan bahasa. Ia adalah melepas bebaskan dunia dari faham agama, menolak segala pandangan alam yang tertutup, menghapus mitos dan simbol yang dianggap suci, dan sebagainya. Sekularisasi tidak hanya meliputi aspek politik dan sosial dalam kehidupan manusia, tetapi juga tentunya meliputi aspek kebudayaan, karena sekularisasi bermaksud ‘hilangnya pengaruh agama dari simbol-simbol penyatuan kebudayaan’. Sekularisasi juga berarti suatu proses sejarah yang tidak dapat mundur ke belakang, di mana masyarakat dan kebudayaan dibebaskan dari bimbingan agama. Ia merupakan suatu ‘pembangunan yang membebaskan’, dan hasil terakhir dari sekularisasi adalah relativisme sejarah. Oleh karena itu, menurut mereka sejarah adalah suatu proses sekularisasi.
Pokok-pokok utama dimensi sekularisasi adalah: ‘penghilangan pesona tabi’i, peniadaan kesucian dan kewibawaan agama dari politik, dan penghapusan kesucian dan kemutlakan nilai-nilai dari kehidupan.

Al Attas mengkritik pembedaan makna istilah sekularisasi dan sekularisme. Sekularisasi dikatakan sebagai “bukan suatu proses” tetapi “kristalisasi”. Dan setiap “isme” adalah satu “ideologi”. Jika ideologi diartikan sebagai “seperangkat ide-ide umum” atau satu “program filosofis”, maka sekularisasi juga merupakan satu ideologi. Pada akhirnya, sekularisasi ini juga akan menjadi sekularisasisme (secularizationism). Sekularisme dan sekularisasi memiliki persamaan yaitu relativisme sejarah yang sekular.

Sekularisasi merupakan fenomena khas dalam dunia Kristen. Menurut Bernard Lewis, yang dikutip oleh Adian Husaini, “Sejak awal mula, kaum Kristen diajarkan – baik dalam persepsi maupun praktis – untuk memisahkan antara Tuhan dengan kaisar dan dipahamkan tentang adanya kewajiban yang berbeda antara keduanya”. Dalam sejarah Kristen Eropa, kata secular dan liberal dimaknai sebagai pembebasan masyarakat dari cengkeraman kekuasaan Gereja yang sangat kuat dan hegemonik di zaman pertengahan. Proses berikutnya bukan saja dalam bidang sosial-politik, tetapi juga menyangkut metodologi pemahaman keagamaan. Proses sekularisasi-liberalisasi agama, kemudian diglobalkan dan dipromosikan ke agama-agama lainnya, termasuk Islam. Ide sekularisasi itu sendiri sangat kontroversial di kalangan Kristen. Sebab, mereka melihat, ide ini dapat menghancurkan agama Kristen. Namun, mereka harus menerima ide itu, karena hegemoni Barat yang sangat kuat dan trauma Barat terhadap hegemoni Gereja Kristen di masa lalu. Di Indonesia, sekularisasi sebenarnya telah berjalan sejak zaman penjajahan Belanda. Pemerintah kolonial melarang keras ekspresi keagamaan, khususnya Islam, yang bagi banyak rakyat nusantara bukan semata-mata agama, melainkan ideologi gerakan, bahkan napas kehidupan.

Dari paparan di atas, sekuler sebagai suatu faham atau ideologi (sekularisme) jelas bertentangan dengan Islam. Islam tidak mengenal pemisahan antara dimensi dunia dengan dimensi metafisik (akhirat), ruh dan jasad, agama dan politik, dan sebagainya. Islam mengatur semua itu dan mengombinasikannya secara tertib, seimbang dan sempurna. Sekularisme sebagai faham anti agama tentu saja tidak bisa berkembang dan dikembangkan kepada masyarakat Muslim, termasuk tidak ada kebutuhan untuk membuat istilah bagi sekolah bukan khusus sekolah keagamaan dengan istilah “sekolah sekuler”. Adapun Madrasah yang sudah umum dikenal sebagai “Sekolah Islam” tidak menjamin bahwa yang diajarkan di sana benar-benar murni ajaran Islam. Bahkan seringkali materi-materi ajar banyak yang sudah tersekulerkan akibat kuat dan masifnya sekularisasi ke berbagai bidang kehidupan terutama bidang pendidikan. Oleh karena itu yang terpenting adalah bukan soal model sekolah sekuler atau madrasah yang akan dikembangkan sebagai alternatif pendidikan Islam ideal, tetapi bagaimana sekolah-sekolah itu diislamisasikan melalui proses Islamisasi ilmu dari ilmu-ilmu sekuler sehingga menjadi model sekolah Islam terbaik.
🇮🇩🇮🇩🇮🇩

YAYASAN TERATAI PUTIH GLOBAL

TK Islam, SD Islam, SMP Islam, SMA Islam, SMK, SMP&SMA Islamic Boarding School, Ponpes Al Muhajirin Teratai Putih Global

Jl. Kampus Teratai Putih no.1 Cimuning, Mustikajaya Bekasi Jawa Barat 17155

021-82609737/82609303
https://www.terputglobal.sch.id
Email : yayasan@terputglobal.sch.id
Instagram : yayasan_terput
Facebook : Yayasan Terput
Youtube : Yayasan Teratai Putih Global

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
sabili
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker