HeadlinePernik

Jalal

Apa yang sudah diperbuat Kang Jalal, sapaan Jalaluddin Rakhmat, bisa menjadi perenungan kita yang masih hidup; mana-mana yang bisa diambil, dan mana yang biarkan angin Februari membawanya sebagai bagian dari buku amal ia di hadapan Allah

Oleh Yusuf Maulana –

Sampai pertengahan dekade 1980-an, ia masih pengagum Ikhwanul Muslimun. Ia tak sembunyikan kekagumannya pada organisasi bentukan Hasan al-Banna ini. Sebentuk kecintaannya diwujudkan, salah satunya dengan karya terjemahan Al-Matsurat.

Dalam edisi perdana Maret 1985 oleh Mizan, terjemahannya dijuduli: “Al-Matsurat Warisan Suci; Doa-doa Imam Hasan al-Banna”. Buku setebal 112 halaman ini bisa dikatakan generasi awal bacaan rutin para Ikhwani di Indonesia, yang masa itu lazim menyebut diri: Usrah.

Sejatinya, revolusi Iran pada Januari 1979 sudah memikatnya. Hal lumrah bagi para aktivis Islam masa itu untuk membaca dan mendukung secara bersamaan pemikiran Ikhwan dan kiprah revolusi di bawah para mullah. Informasi tentang pertentangan ideologi pengusung revolusi Iran dengan aqidah Islam di kalangan Ahlus-Sunnah belum sejelas dan seluas sekarang.

Meski belum bisa mengabaikan pengaruh Ikhwan, dalam perjalanan pemikirannya toh ia larut dalam warna Teheran. Saat menyusun “Rekayasa Sosial; Reformasi atau Revolusi?” pada 1999, alias dua dekade setelah revolusi Iran, ia juga masih malu-malu untuk beranjak tampil selaku sosok revolusioner ala Khomeini. Buku yang jadi rujukan di kalangan penerap manhaj Ikhwan ini pun lebih mencerminkan orientasi perubahan model Ikhwan. Yaitu menekankan pemahaman ilmu dan nalar ketimbang grusah-grusuh angkat senjata agar dikenal sebagai pemuda revolusioner.

Dua dekade selepas revolusi Iran sesungguhnya ia sudah beralih menjadi sosok “berbeda”. Beda dalam khazanah teologi dan sejarah Islam. Tapi ini tak berarti mengabaikan kemampuannya yang mumpuni sejak muda dulu: komunikasi. “Psikologi Komunikasi” dan “Retorika Modern: Pendekatan Praktis” bukti sahihnya. Sangat laris hingga dipakai, lagi-lagi, kalangan Ikhwani di sini, terutama buku “Retorika Modern”.

Dan waktu pasca-Orde Baru dengan ditingkahi rekrutmen politik oleh partai-partai, ia pun masuk sebagai wakil rakyat. Kali ini ia sudah haqqul yakin dengan putusan teologi sebagai penganut keyakinan serupa mayoritas rakyat Teheran. Malah ia didapuk sebagai elit jemaat sekte tersebut untuk wilayah republik ini.

Pada Jalaluddin Rakhmat patik menaruh respek atas interaksinya dan jerih payahnya menghadirkan karya apik dari terjemah Al-Matsurat hingga goresan sendiri berupa Retorika Modern. Meski kini berseberangan dalam bentang yang tak pendek, perjalanan intelektual dan kejiwaannya yang dahaga sepatutnya jadi bahan introspeksi patik ke depan.

Dalam gelora masa yang bercumbu momen-momen disrupsi, kelabilan ataukah kematangan kita dalam gerakan kebaikan terus diuji. Kolaborasi yang cair semestinya tak membuat kita mudah luntur meninggalkan identitas yang semula diyakini. Tapi ini bukan berarti minda kita harus kaku dan tak mudah menerima kebenaran baru. Ini soal kekokohan menyeleksi kebenaran.

Apa yang sudah diperbuat Kang Jalal, sapaan Jalaluddin Rakhmat, bisa menjadi perenungan kita yang masih hidup; mana-mana yang bisa diambil, dan mana yang biarkan angin Februari membawanya sebagai bagian dari buku amal ia di hadapan Allah. Ia pada 15 Februari 2021 menghadap Allah. Dengan segala pilihan pemikiran dan pandangan keyakinannya. Dalam nuansa perbedaan yang ada, toh ada banyak legasinya yang bisa diunduh buat dipercikkan dalam lakon hidup kita yang masih bernapas. Bila itu ditimbang oleh-Nya sebagai jariah almarhum, maka insan siapa pun tak bisa menolak. Patik tak perlu berkomentar lebih jauh pada soalan serupa ini.

Mengingat yang ditinggalkannya sebagai hikmah buat siapa pun, hemat patik, jauh lebih penting ketimbang berurusan soal hukum-menghukumi memberi istirja padanya yang beberapa lewat di grup WhatsApp.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218656622466413&id=1223566627

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sabili
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker