HeadlinePerspektif

JAMES Lebih Sakti Dari Pancasila…

Membaca judul di atas pastilah ada yang bertanya-tanya, James siapa itu?  Atau bahkan tidak sedikit yang tidak menyukai judul itu…

Ketidak sukaan itu wajar saja, karena nama seseorang kok diposisikan dengan Pancasila, disandingkan saja tidak pantas…

Pancasila itu dasar berbangsa dan bernegara, katanya, masa bangsa dan negara kesaktiannya dikalahkan oleh seseorang, yang benar aja…

Pancasila itu Sumber Hukum, katanya, masa kesaktiannya dibidang hukum dikalahkan seseorang, yang benar aja…

Namun, suka atau tidak, saat ini Pancasila Keaaktiannya sedang dipertanyakan, karena bisa dikalahkan oleh kelompok usaha atau bahkan seseorang dengan tidak menaati hukum…

Harusnya itu tidak boleh terjadi… Hukum khususnya, tidak boleh kalah dengan apa dan siapa pun…

Hukum harus berdiri sama tinggi dihadapan kebenaran dan keadilan…

Siapa James itu? Dialah James Riady, putra taipan Mochtar Riady, seorang bankir kenamaan yang membesarkan BCA dimasa lalu…

Orang menyebut, sang anak, James, lebih lincah dan trengginas dibanding sang ayah. Mungkin itu disebabkan pendidikan, pergaulan yang lintas negara menjadikannya pribadi yang kuat dan pintar…

Kalangan jurnalis internasional, dan kawan-kawan yang mengenalnya dengan baik, menyebutnya seseorang yang murah senyum, ramah dan gampang bergaul, sekalipun dengan orang yang baru dikenalnya…

Sekadar mengingat kiprahnya di masa lalu, yang menyita pemberitaan internasional, mungkin layak diangkat…

Berdasar investigasi jurnalis William Safire, New York Times, edisi 7 Oktober 1996, mewartakan bahwa James Tjahja Riady telah menyumbang sejumlah US $ 200.000, untuk menyokong kampanye Presiden Bill Clinton dari Partai Demokrat, pada tahun 1992… Jumlah sumbangannya itu melebihi dari yang ditetapkan disana, dan itu tidak dibenarkan…

James akhirnya mengaku bersalah atas Tuduhan “konspirasi penipuan terhadap AS”. Dan pada tahun 2001, dinyatakan bersalah oleh Departemen Kehakiman AS. Karenanya, dikenai denda sebesar US $ 8.600.000, serta dilarang masuk AS selama 2 tahun…

Penggalangan dana kampanye untuk Clinton-Gore itu, dilakukannya bersama rekannya Ted Song, mencapai US $ 7,5 juta…

Penggalangan dana itu melibatkan para pengusaha taipan Indonesia, seperti Antoni Salim (Indofood), Eka Tjipta Wijaya (Sinarmas), Murdoyo Poo (Berca), A Guan (Artha Graha), SukantoTanoto(Raja Garuda Mas), dan lain-lain…

Semua dana disetor ke rekening-rekening, yang dibuka oleh Lippo, dan diterbangkan ke AS melalui markas Lippo di Hongkong…

Itu sekilas tentang sosok James Riady dimasa lalu, seseorang dengan  lobby tingkat tinggi dan pergaulan yang dijalinnya dengan Bill Clinton, konon sejak ia menempuh pendidikan di AS…

James Riady, dibawah bendera Lippo Group, merambah banyak bidang usaha bisnis. Dan yang terakhir, yang menjadi pusat pemberitaan adalah Pembangunan Proyek Raksasa Kota Baru, di Cikarang-Bekasi, bernama MEIKARTA…

Luas tanah total 500 Ha, ada yang mengatakan lebih dari itu. Estimasi investasi sebesar Rp 278 Trilyun…

Akan dibangun didalamnya 100 unit gedung pencakar langit, tinggi 35-46 lantai. Target 50 unit bangunan sudah siap huni pada Desember 2018…

Tahap awal juga akan dibangun 250.000 unit rumah. Selain itu, terdapat area komersial, hotel, kampus, perkantoran, dan segàla perlengkapan lain layaknya sebuah kota…

Ada banyak pembahasan soal ini, dalam berbagai versi tentang kehadiran Kota Baru ini, ada yang menganggapnya sebagai berita biasa saja, namun banyak pula yang “mencibir” dengan pemberitaan yang cenderung negatif. Bahkan, nama proyek yang digunakannya pun mengundang banyak “tafsir”, mengapa memakai nama Meikarta, misal…

Dari nama Meikarta itu saja muncul “penafsiran” beragam, ada yang menyebut nama itu diambil dari nama sang Ibu, Mei, dan Karta bermakna Kota. Ada pula yang mengaitkan itu dengan peristiwa amuk massa di tahun 1998, dimana etnis Cina menjadi sasarannya…

Apa pun namanya, hak bersangkutan memberi nama, karena sebelumnya ada juga nama seseorang bernama Karta (jadi ingat peristiwa Sengkon dan Karta, diawal ’80-an)… itu biasa-biasa saja…

Nama itu, Meikarta, terus digaungkan lewat iklan media, baik cetak maupun ekektronik, begitu masif. Kelesuan dunia periklanan akhir-akhir ini terasa bergairah kembali dengan hadirnya proyek Meikarta. Entah berapa T uang yang digelontorkan untuk biaya iklannya saja…

Media seolah “disumpal” mulutnya agar tidak memberitakan yang “aneh-aneh” tentang proyek prestisius itu. Media menjadi corong yang baik buat James dan proyeknya itu…

Apa yang salah dari James Riady dengan mega proyeknya itu? Tidak ada yang salah, dan ambisinya itu adalah buah “mimpi” yang ingin diwujudkannya, itu sah-sah saja…

Namun yang tidak biasa adalah, bagaimana mungkin mega proyeknya itu tidak mengantongi IZIN, sehingga Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, mencak-mencak minta proyek itu dihentikan dulu, karena tidak merasa mengeluarkan izin proyek itu, dan dengan kesalnya mengatakan, “Mereka semacam Membangun Negara dalam Negara.”…

Kemarahan Deddy Mizwar, sang Jendral Naga Bonar, itu tidak digubrisnya. Buktinya proyek jalan terus, dan bidang pemasaran terus memasarkan proyek itu, seolah tidak terjadi apa-apa… Kemarahan sang Wagub itu tinggal kemarahan…

Tampaknya tidak ada yang mampu menghentikan proyek Meikarta itu, termasuk Keadilan Pancasila sekalipun…

Kita mengenal Pancasila mengajarkan konsep Keadilan, dan itu adalah hukum tertinggi yang menjadi acuan bernegara… Artinya, adanya Perlakuan yang Sama Dihadapan Hukum…

Tapi tidak berlaku pada orang kebanyakan, yang tentu jauh dari kata “sakti”, jika mendirikan sepetak saja bangunan rumah untuk tempat tinggalnya, dan dia alpa mengurus IMB, maka dipastikan bangunan itu akan dirobohkan…

Bahkan sebuah masjid yang tengah dibangun di Pekalongan, yang tidak mengantongi IMB, harus dirobohkan. Dan ummat harus berhadapan dengan Satpol PP yang “buas” saat akan merobohkan rumah ibadah itu…

Inilah masa-masa dimana konsep Keadilan dalam Pancasila sedang kehilangan Kesaktiannya, jika harus berhadapan dengan kekuatan digdaya…

Keadilan Pancasila menjadi Sakti jika berhadapan dengan rakyat kebanyakan. Tapi dalam konteks Meikarta, ia tidak Sakti lagi… Keadilan Pancasila itu bertekuk lutut dihadapan James dengan mega proyeknya itu… James memang Sakti…

Keadilan Pancasila menjadi tumpul keatas, tapi tajam kebawah, dan itu  tanda-tanda kesaktiannya mulai pudar…

Kita pun cuma melongoh lemas melihat ketidak adilan ini dipertontonkan ditengah masyarakat, tanpa mampu berbuat apa-apa… (ady amar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
sabili
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker