HeadlineNasionalPolitik

MANUVER-MANUVER PARA MENTERI MEMPERTEGAS KE MANA ARAH PEMERINTAHAN JOKOWI SEBENARNYA

Mengapa para elit rezim saat ini terus menerus mengobok-obok Islam dan Umat Islam? Umat Islam yang sudah damai dan tenang terus-menerus dipancing untuk marah dan berbuat anarkis? Apa yang sebenarnya terjadi dengan rezim ini? Betulkan pemerintahan Jokowi sudah benar-benar disetir oleh kekuatan jahat dan sesat?

Sholihin MS

Seperti yang berebut kejar setoran karena mau tutup buku, ada 4 menteri plus Wapres serentak membuat statement yang kontroversial, sensasional, sekaligus absurd dan sangat mengkhawatirkan.

Pertama adalah statement Menteri keuangan Sri Mulyani yang mencanangkan gerakan nasional wakaf tunai (GNWU) bagi umat Islam untuk “disumbangkan” kepada Pemerintah. Kebijakan ini mendapat reaksi keras umat Islam bahkan jadi bahan tertawaan.

Kedua adalah statement Menpan-RB Cahyo Kumolo yang meminta para ASN (Pegawai Negeri Sipil) untuk menjauhi para mantan anggota HTI dan FPI. Ini sangat arogan, melanggar kaidah agama, nilai Pancasila, kaidah kemanusiaan, dan asas hukum praduga tidak bersalah.

Ketiga adalah stetemen Menteri Agama yang bermanis-manis dengan nonmuslim tetapi sangat arogan kepada umat Islam garis lurus. Dia sudah menyalahgunakan arti toleransi dan berani mensitir dan memuji-muji Kitab Injil (Matius) tentang pentingnya kasih sayang sesama manusia tapi implementasinya seperti apa?

Yang terbaru Menag membuat peraturan Guru Nonmuslim bisa mengajar di Madrasah? Apa maksudnya? Guru nonmuslim ngajar di madrasah, pendeta ngasih ceramah di masjid; sebaliknya: ustadz ceramah di gereja, santri shalawatan di gereja. Apa ini yang namanya toleransi?

Keempat adalah statemen Menteri PendidikanNadim Makarim yang mempermasalahkan sekolah yang mewajibkan atau menghimbau siswa muslimah untuk memakai jilbab, sebaliknya membiarkan sekolah yang mengharuskan siswi muslimah untuk membuka jilbab. Ini pelecehan agama, menegur pimpinan sekolah yang mewajibkan jilbab bagi siswa nonmuslim boleh-boleh saja, walaupun setiap sekolah itu punya kebijakan masing-masing, tapi “memaksa” seseorang itu tidak bijak. Hanya, menyuruh siswa muslimah untuk memakai jilbab adalah upaya melaksanakan dakwah dengan tangan (kekuasaan).

Kelima adalah statemen Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin (yang biasanya diam) yang meminta para ulama dan kyai untuk mensosialisasikan wakaf. Istilah wakaf bukan hal yang aneh. Yang jadi aneh karena ditujukan untuk hal-hal diragukan untuk kemaslahatan umat (Islam), ditambah lagi akan digunakan oleh pemerintah yang korup, tidak amanah, tukang berbohong, dan selalu ingkar janji (ciri-ciri munafik) dan sangat zhalim kepada para ulama garis lurus.

Tidak kalah gaduhnya dan Ikut bikin sensasi dan kontroversi adalah statement Ketua PBNU KH Said Aqil Siraj yang menyebut ada NU cabang Nasrani. What?
NU kan singkatan dari Nahdhatul ‘Ulama (Kebangkitan para Ulama)
Lalu, di mana relevansinya antara ‘kebangkitan ulama’ dengan ‘nonmuslim’?

Mengapa para elit rezim saat ini terus menerus mengobok-obok Islam dan Umat Islam? Umat Islam yang sudah damai dan tenang terus-menerus dipancing untuk marah dan berbuat anarkis? Apa yang sebenarnya terjadi dengan rezim ini? Betulkan pemerintahan Jokowi sudah benar-benar disetir oleh kekuatan jahat dan sesat?

Ini semua akibat dari kegagalan pemerintahan dalam hampir semua bidang sehingga selalu nencari pelampiasan dan membuat pengalihan issue? Mengapa tidak fokus mengatasi pandemi covid 19 yang makin hari makin mengganas karena tidak ditangani secara hati nurani dan komprehensif?

Masih mungkinkah pemerintahan Jokowi punya kemampuan mengatasi berbagai problematika bangsa yang super kompkeks? Masihkah ada harapan rezim ini diselamatkan dari kebangkrutan ?

Ketika Kas APBN sudah kosong, ketika hutang terus menaik tajam, ketika bunga hutang sudah mulai hampir tidak bisa terbayar, sementara ekonomi makin ambruk, lapangan kerja makin susah tapi malah diberikan kepada para TKA Cina, PHK masal terus terjadi, daya beli masyarakat menurun drastis, harga-harga barang terus naik, nilai tukar rupiah tak kunjung menguat, dan peluang usaha sangat susah.

Hukum berkeadilan cuman ada di atas kertas, pada prakteknya hukum cuman jadi alat penguasa dan kekuasaan, tajam ke lawan politik tapi tumpul ke para pendukung dan penjilat rezim

Ketenangan umat Islam untuk menjalankan syariatnya terus diusik dan berusaha untuk diberangus dengan diciptakan stigma negatif dengan tuduhan radijal, garia keras, intoleran, dan tidak menghargai keyakinan agama lain.

Istilah toleransi sudah disalahgunakan, bahkan oleh Menteri Agama dan tokoh-tokoh Agama yang sudah terkontaminasi oleh paham liberal dan sesat.

Perintah Al-Quran untuk aaiddaa-u ‘alal kuffaar ruhamaa-u bainahum (keras terhadap kaum kafir dan berkasih sayang duantara sesama Muslim) telah diputar- balikkan. Kepada nonmuslim hormatnya luar biasa sampai mau cium tangan, sampai Menteri Agama pun mengutip Injil Matius tentang kasih sayang. Sebaliknya, yang jelas-jelas terikat kalimat Laa ilaaha Illallah Muhammadurrasuulullah malah terus dibangun permusuhan dan perpecahan.

Begitu lihainya Yahudi dan Musyrikin dalam menghancurkan sendi-sendi Islam. Banyak umat Islam yang lemah aqidahnya telah menjadi tangan kanan Yahudi, Nasrani dan kaum Musyrikin untuk memecah belah kesatuan dan persatuan umat Islam sekaligus menghancurkan Islam dari dalam.

Semoga Allah segera mengganti kaum Muslimin munafik dengan orang-orang beriman yang akan membawa kehidupan yang aman, damai, dan leluasa dalam menjalankan syariat Islam. Sebagaimana janji Allah dalam Al-Quran: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. An-Nūr :55 ).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sabili
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker