HeadlineNasionalPerspektif

Obituari Kecil untuk Pak Qadir

Dalam setiap training dan diskusi PII, Pak Qadir kerap menyampaikan argumen di dekat buku yang bertumpuk. Pembahasan isu-isu filsafat, politik, sejarah, dan kebudayaan menjadi makanan sehari-hari di sana. Setajam apapun kritik tersebut dilontarkan Pak Qadir, beliau memilih cara-cara damai untuk memperjuangkan kepentingan umat.

 

Ismail Al Alam

Menjelang dzuhur, Pak Anwar Djaelani (InPas Surabaya) memberi kabar di grup WA INSISTS Silaturahim tentang wafatnya Pak Abdul Qadir Djaelani. Jika ada yang belum kenal dengan beliau, izinkan saya sedikit memperkenalkan sosok yang sangat berkesan bagi masa kecil saya ini.

Beliau adalah mantan Ketua Umum PII awal 60-an. Di antara anak-anak Masyumi, Pak Qadir mungkin yang paling sering dipenjara. Dalam pengantar puisinya, “Berbeda Pendapat”, Taufiq Ismail menulis:

Kucatat ahli masuk bui, A. Qadir Djaelani
di zaman demokrasi terpimpin dua kali
di zaman demokrasi pancasila lagi dua kali

Di sepanjang puisi itu, Pak Taufiq menceritakan bagaimana keakraban tokoh-tokoh Masyumi dengan lawan politik mereka, baik yang dari PNI, Katolik, bahkan PKI. Tetapi, mengapa puisi itu diawali dengan ingatan pada Pak Qadir?

Bagi anak-anak muda muslim di Tanjung Priok, Jakarta Utara, sosok Abdul Qadir Djaelani adalah orator ulung yang mengritik Orde Baru dengan tajam. Tapi, ketajamannya itu tidak berhenti di retorika, karena semua memiliki isi berupa argumentasi. Apalagi kalau di forum yang sama terdapat Mat Natsir, sebutan orang Betawi untuk Mohammad Natsir. Orang-orang akan rela berjalan kaki ketika tak punya ongkos naik bemo, hanya untuk menyimak salah satu atau keduanya.

Di antara anak muda yang terpukau itu, terdapat dua orang yang kini menjadi ayah dan ibu saya.

Mereka masuk PII sejak remaja, ketika bersekolah di SMAN 13 Jakarta. Dalam setiap training dan diskusi PII, Pak Qadir kerap menyampaikan argumen di dekat buku yang bertumpuk. Pembahasan isu-isu filsafat, politik, sejarah, dan kebudayaan menjadi makanan sehari-hari di sana. Setajam apapun kritik tersebut dilontarkan Pak Qadir, beliau memilih cara-cara damai untuk memperjuangkan kepentingan umat.

Inilah yang membuat beliau rela dipenjara di beberapa kesempatan; yang terakhir, ketika beliau menolak Asas Tunggal Pancasila. Di penjara, beliau menulis buku Menelusuri Kekeliruan Pembaharuan Pemikiran Islam Nurcholish Madjid, yang kemudian terbit setelah beliau bebas.

Terhadap pidato sekularisasi Cak Nur, 1970, Pak Qadir memang menunjukkan kemarahan yang besar. Beliau bahkan membawa golok dan mendatangi Pak Natsir, meminta izin untuk menyembelih Cak Nur. Tetapi, Pak Natsir menenangkannya dan berkata, “Dul Qadir, Nurcholish hanya menulis. Kau bantahlah lagi dengan tulisan.”

Pesan itu lantas ditunaikannya selepas dari penjara

Memasuki Reformasi, Pak Qadir dan anak-anak Masyumi lain turut mendirikan Partai Bulan Bintang, meski pada akhirnya berselisih dengan Yusril. Ayah saya, yang juga menjadi pengurus PBB di Bogor, masuk di dalam kubu Pak Qadir, meski tak sampai meninggalkan PBB.

Di dalam PBB itu pula, saya berjumpa untuk pertama kali dengan Pak Qadir, meski waktu itu tak mengerti karena usia saya masih sangat kecil. Tapi, yang saya ingat dan berkesan sampai sekarang adalah kisah-kisah Masyumi, baik partai maupun tokoh-tokohnya, dan bagaimana umat Islam melakukan perlawanan terhadap Orde Baru. Cerita yang turut memupuk kesadaran keislaman dan keindonesiaan saya itu begitu berkesan sampai sekarang.

Dalam beberapa kesempatan, saya dan ayah saya juga mengunjungi beliau di rumahnya, Leuwiliang. Semakin hari, kondisi beliau semakin ringkih. Ketika saya mulai memasuki kuliah dan bergabung dengan HMI, ayah saya bahkan memerintahkan saya untuk bersilaturahim seorang diri ke sana, mendengarkan wejangan beliau tentang bagaimana menjalani hidup sebagai aktivis Islam di organisasi sebesar HMI.

Kala itu, 2010 atau 2011, beliau menerima saya dalam keadaan pendengarannya melemah. Kata beliau, itu akibat siksaan semasa di penjara, bersamaan dengan siksaan lain seperti pencabutan kuku. Satu hal yang saya ingat dari pesan beliau kala itu:

“Kalau mau jadi politisi, masuk partai politik! Gerakan mahasiswa Islam itu harusnya mengkader intelektual, supaya bisa kritis terhadap siapapun bahkan politisi Islam itu sendiri!”

Saya tak begitu banyak menulis obituari secara khusus, kecuali terhadap orang yang benar-benar berkesan, dan Pak Qadir salah satu di antaranya.

Allahumaghfirlahu, warhamhu, wa’aafihi, wa’fu’anhu.

Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara, Dusun Pogung Lor, 23 Februari 2021, jam 13:39 WIB

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sabili
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker