HeadlineNasionalPolitik

Operasi Buzzer

Kegaduhan selama ini sumbernya bukan ada tidaknya kaum radikal dan makar, tapi problem utamanya adalah adanya kelompok-kelompok bayaran yang bekerja secara sistemik menggaungkan isu radikalisme dan makar. Dari sinilah potensi konflik sangat mengkhawatirkan

sabili.co – Konflik yang sering terjadi diantara anak Bangsa, baik sesama Muslim, dan non Muslim. Terutama di Media Sosial, hingga ada labelisasi untuk pendukung pemerintah dengan label “Cebong” sedangkan kelompok yang tidak mendukung pemerintah disebut “Kadrun”

Kalau dibiarkan berlarut larut, bisa membahayakan stabilitas Nasional.

Kenapa bisa terjadi ?

Permadi Arya atau Abu janda dan kelompoknya telah mengakui bahwa mereka adalah Buzzer bayaran. Siapa yang membayar mereka?

Di saat rakyat sedang sulit karena efek pandemi covid-19 dan defisit APBN mencapai 3,38 persen, buzzer mendapatkan suntikan dana 90.45 M.

Sebenarnya bukan soal besar atau kecil dana itu. Ada persoalan yang lebih mendasar. Pertama, apa manfaat buzzer buat bangsa ini? Kedua, ini lebih serius, ada dampak yang cukup mengkhawatirkan akibat operasi.

Menjawab pertanyaan pertama, kalau ada manfaat dari operasi buzzer, itu manfaat buat siapa? Yang pasti bukan untuk negara. Bukan pula untuk bangsa. Sesuai dengan design operasinya, buzzer dipakai untuk menghadapi lawan politik penguasa dan orang/kelompok yang kritik penguasa.

Dugaan orang yang berada dilingkaran Istana yang membayar mereka, bahkan sampai menempatkan Abu janda ditubuh NU.

Buzzer bekerja untuk kepentingan penguasa, lebih dari kepentingan untuk negara. Karenanya, tak memiliki institusi dan kelembagaan khusus. Maka, anggarannya pun nempel ke program-program kementerian dan institusi lainnya.

Fokus buzzer adalah mengcounter segala bentuk kritik terhadap program dan kebijakan pemerintah.

Stigmatisasi makar, bahaya khilafah, Islam garis keras, ekstremisme dan radikalisme adalah bagian narasi yang terus dikelola oleh para buzzer untuk membunuh karakter dan gerakan kelompok yang diidentifikasi sangat kritis kepada pemerintah.

Swiping, Intimidasi dan persekusi oleh kelompok swasta berseragam juga seringkali menjadi bagian dari operasi buzzer. Tentu, ada anggarannya sendiri. Gak ada anggaran, gak akan jalan.

Operasi buzzer diduga menjadi salah satu sebab utama kegaduhan sosial dan politik selama ini. Sejumlah aktor yang selalu muncul ketika datang kritik kepada pemerintah adalah bagian dari salah satu model operasi buzzer yang selalu membuat kegaduhan situasi politik di negeri ini. Lu lagi.. Lu lagiā€¦ Orang-orang itu aja.

Kalau dilihat aktornya, macam-macam jenis buzzer. Dari yang ecek-ecek, buzzer kelas kampung yang hanya cukup diprovokasi, hingga yang paling canggih dan profesional. Kalau sudah berurusan dengan IT, maka buzzer yang diterjunkan dan beroperasi adalah dari kalangan profesional.

Sebagaimana yang dialami oleh sejumlah deklarator KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) beberapa waktu lalu. Ada sejumlah akun deklarator diretas, rapat wibinar diganggu, nomor WA dicloning, dst.

Anggaran 90.45 M sesungguhnya terlalu kecil jika dibandingkan dengan dampak dan potensi social-destruction yang diakibatkan oleh operasi buzzer. Yaitu potensi konflik sosial-horisontal. Hubungan antar kelompok dan agama dirusak. Kehidupan sosial dan berbangsa menjadi tak nyaman.

Kegaduhan selama ini sumbernya bukan ada tidaknya kaum radikal dan makar, tapi problem utamanya adalah adanya kelompok-kelompok bayaran yang bekerja secara sistemik menggaungkan isu radikalisme dan makar. Dari sinilah potensi konflik sangat mengkhawatirkan.

Namun yang kita sayangkan banyak Aktifis yang ikut membantu Abu janda, dan memang tujuan yang diinginkan oleh yang membayar Abu janda untuk menciptakan konflik diantara umat Islam.

Umat islam pernah memiliki partai yang sangat ditakuti oleh partai PNI ketika zaman orde lama. Yaitu partai Masyumi yang terdiri dari berbagai organisasi Islam, tapi PNI berhasil mengalahkan Masyumi dengan cara menarik NU untuk mendukung PNI.

Kebangkitan Umat Islam yang dipelopori oleh 212 mengkuatirkan bagi Partai yang sama. Maka cara untuk melemahkan Islam. Mereka menggunakan cara yang pernah dipakai PNI, dan nyatanya mereka telah berhasil menurunkan kekuatan kekuatan Umat islam.

Namun cara yang dipakai oleh orang disekitar Istana dengan menggunakan Buzers bayaran yang telah menciptakan konflik. Mereka sesungguhnya yang menghancurkan Negara dan kelompok intoleransi , dan sungguh arogan. Disinilah Tiongkok bisa mengambil keuntungan dari pertikaian antara Anak Bangsa.

Sumber artikel Munawar dan Toni Rasyid

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sabili
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker