BeritaHeadlineNasional

PKS Minta Uji Pra Klinis dan Uji Klinis Vaksin Merah Putih Dipercepat

Produksi dan penggunaan vaksin Merah Putih sangat penting agar Indonesia tidak tergantung pada vaksin impor dan sekedar menjadi pasar bisnis vaksin semata

Besarnya jumlah kebutuhan vaksin covid-19 membuat anggota DPR RI meminta agar jadwal uji pra klinis dan uji klinis vaksin Merah Putih disegerakan. Selain menghemat keuangan negara, penggunaan percepatan ini akan membuat Indonesia sebagai negara pembuat vaksin, bukan lagi pengguna dan pembeli.

Hal itu disampaikan anggota DPR RI Mulyanto saat Rapat Kerja antara Komisi VII DPR RI dengan Menristek/Ka BRIN, Direktur LBM Eijkman dan Kepala LPNK Ristek di Gedung Nusantara, Komplek DPR RI, Senin (18/1/2021). Ia meminta Pimpinan Komisi VII menyelenggarakan rapat gabungan bersama Komisi IX. Ia meminta mengundang Menristek, Menkes, Satgas Covid-19, BPOM dan BUMN Bio Farma. Rapat diselenggarakan untuk membahas percepatan jadwal uji pra klinis dan uji klinis vaksin merah serta membahas dukungan Pemerintah untuk menyertakan vaksin Merah Putih dalam program vaksinasi nasional double doses.

“Hal ini penting karena kita tengah berkejaran dengan waktu terkait pandemi Covid-19 ini. Komitmen terhadap 3 juta vaksin Sinovac sudah terlanjur diambil Pemerintah meski vaksin ini hanya memiliki efikasi sebesar 65%. Karena itu masih diperlukan tambahan lebih dari 100 juta dosis vaksin untuk vaksinasi penduduk Indonesia secara signifikan. Jumlah ini sangat besar dan secara bisnis merupakan pasar yang empuk,” tegas Mulyanto.

Menurut Mulyanto, produksi dan penggunaan vaksin Merah Putih sangat penting agar Indonesia tidak tergantung pada vaksin impor dan sekedar menjadi pasar bisnis vaksin semata. Selain itu Mulyanto khawatir uang negara yang terbatas dan didapat dari utang terkuras habis hanya untuk membeli vaksin impor.

“Karena itu sangat masuk akal kalau kita menggesa riset dan produksi vaksin Merah Putih agar segera digunakan bagi pemulihan pandemi Covid-19. Jangan sampai terlambat yakni diproduksi pada saat pasar vaksin sudah jenuh,” imbuh Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI ini.

Mulyanto menambahkan pengadaan vaksin tidak boleh dimonopoli oleh satu produk dengan harga yang tak terkendali. Menurutnya, potensi pasar vaksin jangan hanya dinikmati oleh berbagai produk impor yang menyedot devisa Negara. Untuk itu perlu intervensi Negara untuk mendorong riset dan produksi vaksin Merah Putih.

“Ini penting agar kita tidak sekedar menjadi Negara pengguna dan pembeli, tetapi menjadi Negara pembuat, yang berbasis keunggulan para innovator handal nasional. Kita bisa,”tandas Mulyanto.

Dalam Raker bersama Komisi VII DPR RI, Senin (18/1) Menristek/Ka BRIN menyatakan ada 11 platform riset vaksin Merah Putih oleh 6 lembaga riset. Yakni LBM Eijkman, LIPI, UI, ITB, Unair, dan UGM. Yang tercepat, LBM Eijkman menjadwakan uji klinis tahap 1-3 bersama BUMN Bio Farma pada buan Juli-Desember 2021. Adapun targetnya, memperoleh izin BPOM dan diproduksi massal pada bulan Januari 2022.

Raker Komisi VII DPR RI dengan Menristek/ Kepala BRIN ditutup dengan kesepakatan akan segera menjadwalkan rapat gabungan komisi DPR. Untuk mebahas percepatan riset dan produksi vaksin Merah Putih. (RED)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sabili
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker