Uncategorized

PRAHARA MENJELANG MAULID

Muhammad Hilal*

Tidak ada nama manusia yang lebih sering disebut dan digetarkan oleh lidah manusia yang lain, selain nama Nabi Muhammad SAW. Ia dipuji bukan saja pada saat sholat, bahkan saat khutbah, pidato, ceramah dalam berbagai majelis ilmu, nama Baginda Nabi selalu disapa.

Tanah di negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim akan selalu basah dengan untaian kalimat sholawat dan pujian pada Baginda Nabi SAW. Bangun tidur, kaum muslimin akan disapa dengan kemerduan Sholawat Tarhim, yang menggema dari masjid-masjid di seantero negeri, membisikkan salam rindu dan cinta yang agung pada sosok Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setiap menunaikan sholat, bisikan sholawat dan pujian pada nabi terus dilantunkan. Setelah usai sholat dan ingin memanjatkan doa, kaum muslimin disunnahkan pula untuk memulainya dengan membaca sholawat.

Nama yang dimuliakan di langit dan di bumi ini akan terus disebut karena dua hal mendasar, yaitu Iman dan Kecintaan. Iman yang telah melahirkan cinta dan cinta yang terwarnai oleh sibghoh cahaya iman.  Kombinasi  dahsyat yang melahirkan bukan saja rindu namun ketaatan, rasa hormat, pemuliaan, teladan dan rasa memiliki yang sangat dalam. Jauh lebih dalam dari imajinasi manusia tentang cinta suci yang meranggas dalam melankolisme patah hati.

Saat muslim melantunkan ya habibie, maka ini merujuk pada kekasih dengan kadar cinta yang memiliki kedalaman yang berbeda. Tak sekedar terpatri di relung ke dalaman hati, tetapi tertambat kuat pada buhul jangkar transedental. Rasa cinta yang melampaui kecintaan pada istri, anak, dan sanak, kadang yang konon berada dalam ikatan darah. Luar biasanya lagi, cinta yang dahsyat itu tumbuh tanpa melihat wujud fisik Kanjeng Nabi.

Ini benar-benar berbeda dengan drama cinta rekaan para pujangga, yang serba dramatis, penuh prahara yang mengharu-biru dalam balutan dendam dan kecemburuan. Namun semua itu diawali oleh perangkap rapuh tatapan kagum pada kemolekan, pesona, senyum, dan kerling yang tersudut oleh momentum ruang dan waktu, maka terperciklah pijar cinta. Cinta ini kemudian menjalar, membesar dalam subjektifitas dan imajinasi para pelakonnya. Karenanya, meski dilabeli dengan mitologi cinta itu suci, pada akhirnya pijaran cinta yang memercik dalam momen keterpesonaan yang serba fisik itu tidak akan pernah langgeng dan melampaui kematian, ceritanya akan tamat di pekuburan.

Cinta kaum muslimin kepada Kanjeng Nabi bukanlah cinta yang lahir dari keterpesonaan jasadiah. Kebanyakan kaum muslimin mencintai Baginda Nabi justru karena konsekwensi keimanan. Believing is seeing, begitulah bahasa iman. Tak ada pesona dalam kesemertaan, namun pendidikan, nilai, dan hidayahlah yang membuat cinta itu tumbuh kokoh meski tak pernah melihat wajah.

Setiap muslim yang taat, paham konsekwensi cinta mereka pada Kanjeng Nabi SAW. Adalah cita-cita setiap muslim, jika saatnya tiba, mereka akan meninggalkan dunia ini dengan satu keinginan terakhir; dapat menyebut asma Allah dan nama Rasulullah dihembusan nafas yang penghabisan.

Bagaimana menjelaskan fenomena cinta seperti ini kepada Emmanuel Macron? Meski Kota Paris, Ibu Kota Negara Prancis mengklaim dan mentasbihkan diri sebagai la ville de l’amour atau kota cinta, tapi tampaknya  penduduk kota itu buta sama-sekali dengan makna dan kualitas cinta Umat Islam kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa pembunuhan guru sejarah di Prancis tanggal 16 Oktober memang mengagetkan semua pihak. Saat itu, hati banyak muslim dunia tengah teduh melantunkan sholawat, mengkaji kepribadian nabi yang penuh kelembutan, sebagian yang lain melantunkan marhaban dan kidung barzanzi untuk mengekspresikan cinta pada kanjeng nabi menjelang bulan maulid, tiba-tiba kabar itu datang. Seorang guru di Prancis dikabarkan tewas dibunuh oleh remaja muslim yang digambarkan oleh media sebagai ekstrimis Islam.

Dua hari setelah peristiwa itu, dunia Islam memasuki bulan maulid. Penggalan informasi tentang kasus pembunuhan makin lengkap. Nyatalah, peristiwa itu bukan kriminal biasa. Otoritas Prancis menyebut peristiwa ini sebagai serangan ekstrimisme.

Sementara itu umat Islam juga terpukul, peristiwa tersebut memang tidak berdiri sendiri. Ia dilatari oleh penghinaan atas Rasulullah SAW.  Dalam diskusi tentang nilai kebebabasan yang dilakukan di dalam kelas, guru bernama Samuel Paty yang kemudian menjadi korban pembunuhan, menunjukkan gambar kartun Nabi Muhammad SAW sebagai bahan diskusi tentang nilai kebebasan yang dianut oleh Prancis.

Pada tahun 2015, gambar tersebut sesungguhnya telah memicu kontroversi dan kemarahan dunia Islam. Adalah koran satir bernama Charlie Hebdo yang memvisualisasi secara tak senonoh sosok yang mereka sebut sebagai Rasulullah SAW. Peristiwa ini memunculkan serangan ke kantor Charlie Hebdo yang menawaskan 12 orang dan melukai 5 orang, pada bulan Januari 2015.

Tentu saja umat Islam tak bisa membenarkan serangan remaja Rusia bernama Abdullakh Anzorof terhadap guru Samuel Paty, tetapi umat Islam di seluruh dunia juga marah pada provokasi yang menyebabkan prahara itu terjadi. Kemarahan itu makin memuncak saat Presiden Prancis, Emanuel Marcon mengambil pernyataan yang secara spesifik mengesankan ada peran Islam sebagai agama terhadap munculnya serangan itu dengan menuding Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.

Sontak, sikap gebyah uyah Macron membuat dunia Islam makin marah. Semua pihak yang rasional tentu berpandangan bahwa mengaitkan tindakan ekstrimis dengan agama adalah cara berpikir keliru. Tapi itulah sikap resmi pemimpin Prancis dalam penanganan kasus ini. Bukannya melokalisir persoalan dan secara proporsional melihat akar masalah sehingga prahara itu muncul, pernyataan Presiden Marcon justru menyulut munculnya masalah yang lebih serius bagi Prancis dan dunia Islam.

Akibat ucapan tersebut, Prancis dapat kecaman yang luas, khususnya dari negara-negara Islam. Boikot produk Prancis pun digemakan di seluruh negara-negara Islam. Lebih parah lagi, serangan balasan yang membabi-buta juga mengancam keamanan Prancis. Di ujung bulan Oktober, tiga orang tak bersalah meninggal dunia setelah menjadi sasaran serangan di gereja Cote D’Azur, kota Nice.

Kebebasan minus respect?

Begitu sulitkah Pemerintah Prancis memahami rasa cinta umat Islam pada Nabinya?  Sehingga kehebohan yang tak perlu ini harus terus terulang. Umat Islam dan pemerintah di seluruh dunia sudah barang tentu menaruh hormat sepenuhnya pada kedaulatan Prancis dengan segenap nilai-nilai yang menjadi filosofi tegak berdirinya Negara Prancis modern. Kebebasan dan sekulerisme adalah elemen dasar yang sangat penting bagi masyarakat dan Bangsa Prancis.

Pada batas tertentu, negara-negara Islam juga belajar berdemokrasi dari para pemikir Prancis. Melalui demokrasi, kebebasan yang menjadi hak semua manusia diharapkan dapat terpenuhi. Melalui ajaran demokrasi para pemikir Prancis itu pula dunia Islam banyak belajar bahwa kebebasan tak bisa sepenuhnya dilepas begitu saja.

Ekspresi kebebasan individu atau kelompok bisa menjadi tirani bahkan ancaman bagi kelompok lain jika tak diatur dalam mekanisme hukum yang sehat. Oleh karenanya, para pemikir demokrasi menyepakati bahwa aturan main atau hukum dimasukkan sebagai elemen dasar dari prinsip-prinsip demokrasi universal.

Kebebasan harus memberikan ruang hormat kepada kebebasan pihak lain. Tanpa rasa hormat, kebebasan akan menjelma menjadi anarki. Sikap respect atau rasa hormat inilah yang nampaknya hilang dan menjadi sebab  munculnya tragedi itu.

Umat Islam di seluruh dunia tidak sedang mengusik kebebasan dan sekulerisme yang dijunjung tinggi Bangsa Prancis. Umat Islam hanya marah, saat sosok yang amat dicintai dijadikan olok-olok yang tak pantas. Silahkan kebebasan itu diekspresikan, namun jangan melukai kehormatan umat Islam atas nama kebebasan. Peristiwa 2015 mestinya menjadi pelajaran bahwa mengusik Nabi dan kepercayaan umat Islam akan memiliki implikasi yang luas.

Tapi itulah masalahnya. Sikap respect itu tidak ada! Negara lain seperti Jerman, Amerika, Rusia, dan Inggris adalah negara sekuler pula. Mereka menjunjung tinggi kebebasan, namun mereka memiliki rasa hormat dan cerdas untuk memosisikan diri dalam tata-nilai universal di dalam pergaulan masyarakat internasional yang makin kompleks dan rapat.

Dunia yang kita huni ini makin tua dan rapuh, salah satu cara untuk menjaganya agar tetap lestari adalah dengan mengembangkan sikap respect atau rasa hormat. Hormat pada alam, pada tata-nilai lokal, dan nilai kemanusiaan secara universal. Tanpa rasa hormat, konflik dan kerusakan mudah tersulut yang akan menjadi ancaman bagi kelestarian spesies manusia di alam ini. Maka, belajarlah menghormati.

Penulis adalah Pengajar Sosiologi Dakwah, Pesantren Dai Mandiri, Bina Insan Kamil, Jakarta.

Related Articles

sabili
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker